Officially More Than Neighbors
Pesan itu tidak langsung berbalas. Setelah Hazel mengirimkannya malam sebelumnya—penuh keraguan, kejujuran, dan rasa takut ditolak—yang ia dapatkan hanya sunyi. Tak ada notifikasi, tak ada balasan, hanya layar ponsel yang tetap gelap.
Tapi pagi harinya, seperti biasa, Hazel sudah berdiri di depan pagar rumah Meline. Menunggu. Deg-degan. Bertanya-tanya apakah hari ini Meline tetap akan keluar dan duduk di boncengan seperti kemarin-kemarin… atau tidak sama sekali.
Lalu pintu terbuka.
Tante Anna yang lebih dulu keluar, mengangguk kecil melihat Hazel, dan tersenyum simpul saat melihat Meline menyusul dengan langkah ringan. Tidak ada wajah murung, tidak ada kata yang belum selesai. Seolah semua kesalahpahaman telah menguap bersama matahari pagi.
“Jadi pagi ini barengin tetangga lagi, ya?” goda Meline saat membuka pintu mobil Hazel, senyum tipis mengembang di wajahnya.
Hazel tertawa pelan, menahan senyum lebar yang hampir pecah. “Bukan tetangga, tapi pacar?”
Meline tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menolak. Ia hanya duduk, mengencangkan sabuk pengaman, dan membiarkan senyum itu tetap ada di wajahnya—diam-diam mengiyakan dengan caranya sendiri.
Mobil pun melaju perlahan, membelah jalanan pagi yang mulai ramai. Hazel melirik ke arah Meline, hati-hati tapi penasaran.
“Ngomong-ngomong…” katanya membuka topik, “gue mau bilang ke Elio. Lo udah bukan temennya lagi. Sekarang lo punya gue. Gue yang bakal anter lo, jagain lo.”
Meline melirik dengan ekspresi geli. “Lo gak usah bilang apa-apa ke Kak Elio.”
Hazel mengernyit, pura-pura tersinggung. “Kok gitu? Dia harus tahu, dong.”
Meline hanya menggeleng sambil menahan tawa. “Karena gue sama Kak Elio cuma pura-pura.”
Hazel menoleh cepat. “Apa?”
Meline mengangguk. “Iya, kita cuma sandiwara. Buat bikin lo cemburu. Buat bikin lo sadar.”
Ia tertawa kecil, “Plot twist, kan?”
Hazel menatapnya dengan ekspresi tak percaya, lalu ikut tertawa. “Sumpah ya… pantes aja. Lo tuh orang yang kalau diajak ngobrol sama satpam komplek aja deg-degan. Bisa-bisanya akrab banget sama Elio cuma karena dianterin pulang sekali?”
“Yang bikin gue berani cuma lo,” bisik Meline sambil memalingkan wajah ke jendela, malu-malu.
Hazel tersenyum, kali ini penuh. “Gila. Lo sama Elio tega banget keroyokan bikin gue galau.”
Meline hanya tertawa. Dan pagi itu terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Karena untuk pertama kalinya, mereka berjalan ke arah yang sama—tanpa keraguan, tanpa pura-pura.